Binalnya Sekretaris Nancy Yang Cantik

Diposting pada
Cerita Sex Sekretaris Ini Berkisah ” Binalnya Sekretaris Nancy Yang Cantik ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,.Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017.
Cerita Sexz –  Kisah sehari2 seorang bos dengan sekretaris pribadinya, walaupun banyak yang munafik dan sok alim menghujat nafsu bejat mereka mereka, namun bagi mereka berdua semuanya kegiatan ini bagaikan sebuah selingan di tengah kesibukan kerja yang memusingkan kepala.

Binalnya Sekretaris Nancy Yang Cantik

Cerita Sex Sekretaris

Om Herman bisa menghilangkan stress serta merasakan kembali darah mudanya bangkit dan membara di usia tuanya.

Sedangkan Shinta Sang Sektretaris dengan cara mudah bisa mendapatkan posisi strategis dan kehidupan yang jauh dari cukup dalam usia yang relatif muda. Orang-orang mungkin akan mengatakan kalau hubungan mereka adalah sebuah hubungan terlarang yang sama sekali tidak layak untuk dilakukan. Namun bagi Shinta dan Om Herman semua ini hanyalah sebuah keisengan yang menyenangkan. Jadi siapakah yang benar dan yang salah dalam hal ini? Entahlah pikirkan saja sendiri tapi bagi yang ingin menikmati cerita dewasa ini silahkan berikut cerita ngentot dimulai dari sini ohhh

 Tok… tok… tok… , terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Suara ketukan itu cukup mengalihkan perhatian seorang wanita cantik yang kini sedang duduk di belakang meja kerjanya. Ia kemudian terlihat menghentikan kegiatannya membaca sebuah berkas di dalam map yang dipegangnya. Wanita berparas cantik nenawan, berkulit putih mulus dan berambut hitam panjang lurus itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
Oh Bapak… , wanita itu tersenyum.
Di depan pintu kini berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi semampai dan tegap. Walaupun sudah berumur diatas 45 tahun, namun sama sekali kegagahan sang laki-laki tersebut tidak berkurang. Laki-laki itu adalah Herman Adianto atau sering dipanggil Om Herman, seorang Direktur sebuah perusahaan swasta yang cukup ternama di kota tersebut. Sedangkan si wanita cantik adalah Shinta Dewi, 24 tahun, sekretaris Direksi dan salah satu pegawai muda di perusahaan tersebut.
Boleh Om masuk? .

Wanita cantik itu tertawa kecil. Om ini lucu, yang punya perusahaan kan Om ? Jelas boleh dong masuk ke ruangan saya he he…hehe.

Laki-laki itu hanya tersenyum mendengar perkataan sang sekretaris, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan. Begitu Shinta selesai menutup pintu, tiba-tiba sebuah pelukan langsung membekap tubuh sintalnya dari belakang.
Ah Om nakal… , Shinta berucap pelan.
Om kangen nih sayang , sebuah kecupan langsung mendarat di pipi dan leher Shinta.
Jangan disini dong Om ntar ada yang Shintat .
Shinta berusaha menghentikan Om Herman yang masih terus mendaratkan ciumannya.
Kenapa sayang? Apa Om tidak boleh mencumbuimu lagi? .
Boleh Om , tapi… .

Om Herman kemudian membalikkan tubuh Shinta sehingga kini mereka berhadapan. Tanpa sempat melanjutkan kata-katanya, ciuman langsung mendarat di bibir Shinta dan membungkamnya. Shinta pun kini hanya berdiam diri dan membiarkan Om Herman melumat bibir mungilnya. Laki-laki paruh baya itu mencumbui bibir sang sekretaris seperti seorang musafir yang menemukan sebuah oase di padang pasir. Bibir Shinta dirasakannya seperti seteguk air yang bisa melegakan tenggorokannya yang kering.

Tunggu om… , Shinta meletakkan telapak tangannya di bibir Om Herman ketika laki-laki itu kembali hendak melumat bibirnya.
Kenapa? .
Shinta tidak menjawab. Dengan perlahan ia melepaskan pelukan Om Herman dan beranjak menuju jendela kantornya. Wanita cantik itu kemudian menutup tirai jendela kantornya. Om Herman hanya tersenyum melihat tingkah sang sekretarisnya yang cantik. Laki-laki itu begitu tergila-gila dengan Shinta sejak pertama kali wanita cantik itu melakukan tes wawancara. Bagaimana tidak, dengan wajah cantik, kulit putih, rambut panjang halus, tubuh tinggi semampai dengan lekukan proporsional pastilah akan membuat siapapun yang melihat Shinta pastilah akan kehilangan kewarasannya. Om Herman merasa benar-benar beruntung bisa menikmati keindahan bahkan kehangatan tubuh sintal nan sempurna tersebut.
Om , ini kan masih siang? , ucap Shinta sedikit mendesah sambil berjalan mendekati laki-laki tersebut.
Seminggu tidak bertemu denganmu, sungguh benar-bener terasa menyiksa! .
Tapi kan nyuruh saya pergi diklat juga Om ? , dengan manja Shinta memeluk tubuh atasannya itu dan mengecup bibirnya.
Iya, itu kan demi kariermu juga makanya hari ini Om ingin sekali melepaskan rindu .
Tapi nanti malam kan bisa? Saya nggak ada acara kok… .
Nggak bisa sayang, Om sudah nggak tahan lagi .
Kembali mereka berciuman dan kali ini meraka lakukan dengan panas, seakan-akan benar-benar ingin melepaskan seluruh perasaan yang selama ini tertahan. Kedua bibir tersebut saling beradu dan saling melumat.
Oh… so tasty… .
Do you like it? .
Om Herman mengangguk mantap.
Mau yang lebih? , Shinta tersenyum menggoda sambil menguap-usapkan jari telunjuknya ke bibir Om Herman.
Sure…! .
Kita cari hotel sekarang? , jari-jari Shinta kini merambat turun menuruni leher dan kemudian mempermainkan dasi atasannya.
No… let’s do it here… .
Ah? Here? , kali ini nada suara Shinta menggambarkan nada penuh keheranan.
Yes…! Here… .

Tiba-tiba saja Om Herman langsung menggendong tubuh Shinta sehingga membuat sekretaris cantiknya itu menjerit pelan. Hubungan keduanya memang sudah cukup lama terjalin, sudah hampir 6 bulan lamanya. 

CERITA DEWASA – Om Herman yang memang menyukai wanita-wanita muda dan Shinta yang memang memiliki jiwa penggoda membuat hubungan terlarang itu menjadi semakin mudah terjalin. Hubungan dua insan berbeda jaman ini ibarat sebuah simbiosis mutalisme, dimana keduanya memang saling membutuhkan. Om Herman membutuhkan kehangatan percintaan yang sudah tidak bisa lagi ia peroleh dari sang istri, sedangkan Shinta membutuhkan penyuplai dana untuk kehidupannya yang cenderung glamor. Keduanya begitu pandai dan komOm menyembunyikan hubungan cinta terlarang ini, sehingga sampai saat ini bau-bau perselingkuhan sama sekali belum juga tercium keluar.

Aaoo… , kembali Shinta menjerit pelan ketika Om Herman mendudukannya di atas meja kerjanya.
Kemudian mereka kembali berciuman dengan panas. Permainan lidah pun kini mulai menghiasi percumbuan keduanya. Lidah mereka saling bertemu dan bertautan dengan hebat. Shinta sama sekali tidak risih harus bercumbu dengan laki-laki yang usianya hampir setara dengan ayahnya ini. Yang lebih gila lagi, keduanya tidak merasa risih harus bercumbu di kantor dimana jam masih aktif walaupun kini adalah memang waktu istirahat. Beginilah mungkin yang sering orang-orang sebut ketika nafsu sudah menjadi raja, maka logika tak akan lagi punya kuasa.

Wangi parfum yang tercium dari sekujur tubuh Shinta membuat nafsu Om Herman kian menggelora, sehingga ciuman tidak lagi bisa membasuh panasnya gelora tersebut. Kini tangan laki-laki itu mulai merambah dan meremasi kedua payudara Shinta dari balik blazer yang dikenakan wanita cantik tersebut. Ternyata itupun tidak cukup. 

Sambil tetap berciuman tangan nakal Om Hermandengan cekatan membuka satu persatu kancing blazer biru tua sang sekretaris. Sementara jari-jari lentik Shinta kini sedang berada di selangkangan sang bos yang sudah terbuka. Jari-jari itu terlihat melakukan tugasnya dengan baik, sehingga membuat tonjolan yang ada disana menjadi semakin menggunung.

Jangan dibuka Om , nanti nggak keburu makenya , Shinta menghentikan usaha atasannya yang hendak membuka kancing kemeja begitu ia selesai melepaskan blazer yang dipakainya.
Terlihat ekspresi kekecewaan di wajah Om Herman yang terlihat sudah ingin sekali menikmati payudara montok milik bawahannya. Shinta yang memang sudah berpengalaman dibidang percintaan rupanya mengerti ekspresi tersebut.
Kok cemberut sih? he he he .
Pengen nyusu… , sahut Om Herman singkat.
Wah ada bayi besar nih minta netek he he he .
Om Herman tidak berkomentar, hanya ekspresi wajahnya saja yang menunjukkan apa yang kini sedang dirasakannya.

Iya deh saya bukain . Senyuman menggoda kembali tersungging di bibir tipis Shinta.Dengan cekatan kemudian wanita cantik itu membuka satu persatu kancing kemeja putih yang dipakainya. Setelah kancing terakhir terbuka, kemudian jari-jari lentik Shinta berlahan membuka kaitan bra berwarna merah muda berenda yang dipakainya dan menggeser posisi cupnya. Kini di depan Om Herman terpampanglah sebuah gundukan gading kenyal dan padat, dengan puting kecil berwarna coklat yang menantang. Senyuman pun kembali terpancar di wajah laki-laki paruh baya tersebut.

Aku kangen sekali dengan ini , Om Herman mengusap dan memelintir pelan puting payudara kanan Shinta.
Aaah… Om genit ah… , Shinta mendesah pelan.
Kok tambah gede sih? , kini tangan kanan Om Herman mendarat dan meremas payudara kiri sang sekretaris.
Gara-gara Om tuh… .
Lo kok gara-gara Om ? .
Shinta tersenyum kecil. Om sih suka ngemutin makanya jadi bengkak nih he he .
Ih kamu ini ya, benar-benar menggemaskan he he .
Om Herman merangkulkan kedua tangannya di pinggang Shinta yang sedang duduk di atas meja. Sebuah kecupan kemudian mendarat mulus di bibir mungil si wanita cantik.
Mau diShintat aja nih Om ? Rugi dong dibuka? , Shinta melirik nakal ke arah kedua payudaranya yang memang kini sedang menganggur .
Nggak dong… , selesai berucap puting payudara kanan Shinta langsung amblas ke dalam mulut Om Herman. Dengan penuh nafsu Om Herman melahap kedua payudara montok itu secara bergiliran.
Shinta sendiri menikmati sekali sedotan dan permainan lidah Om Herman pada kedua payudaranya. Belum lagi remasan tangan Om Herman yang tak kalah membangkitkan nafsunya. Sambil menggigit bibir bawahnya menahan geli, wanita cantik itu mengelus-ngelus rambut atasannya. Kini Shinta terlihat seperti seorang wanita yang sedang menyusui bayi besarnya.
Oooh… , desah Shinta pelan ketika Om Herman sedikit menggigit puting payudaranya.
Toketmu benar-benar luar biasa sayang, padat dan kenyal! , sebuah kecupan dan pagutan mendarat kembali di bibir Shinta.
Om suka? .
Suka banget! .
Just enjoyed it, it’s all for you… .
CERITA DEWASA – Sambil tetap menikmati kepadatan payudara Shinta, berlahan tangan kanan Om Herman merayap turun merabai kedua betis sang wanita yang kini dalam posisi menjuntai di atas meja. Permukaan betis mulus tersebut terasa begitu lembut dan halus. Tangan dan jari-jari itu terus merayap naik sehingga menimbulkan sensasi geli di sekujur tubuh Shinta. Apalagi ketika tangan Om Herman berlahan masuk ke dalam rok span pendek yang dikenakannya dan terus merabai permukaan pahanya. Shinta yang memang telah mengangkang lebar memudahkan akses masuk tangan atasannya tersebut menuju selangkangannya. Kini Shinta bisa merasakan jari-jari tangan Om Herman telah menyentuh permukaan celana dalamnya yang berenda.
Udah basah ya sayang? , Om Herman melepaskan bibirnya dan tersenyum kecil.
Shinta hanya mengangguk pelan dan mendesah. Aaah… .
Rok span biru tua itu semakin tinggi terangkat ketika tangan Om Herman berada di dalam celana dalam Shinta dan mulai merabai bulu-bulu halus yang ada disana.
Aaakh… geli om , Shinta berteriak pelan ketika dengan iseng Om Herman menekan klitorisnya.
Geli tapi enak kan? He he .
Ih, Shinta jangan digodain dong Om kan malu .
Kalo nggak digodain terus mau diapain dong? He he .
Mau dicium… .
Om Herman pun langung mendekatkan bibirnya ke bibir Shinta, namun wanita cantik itu menghentikannya.
Tapi ciumnya nggak di sini , Shinta menunjuk ke arah bibirnya.
Om Herman mengerutkan keningnya. Terus dimana? .
Di situ… , Shinta kemudian menunjuk ke arah selangkangannya dan tersenyum menggoda.
Ha ha ha kamu benar-benar wanita nakal .
Om Herman menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian laki-laki paruh baya itu memasukkan kedua tangannya ke dalam rok sekretarisnya dan mulai menarik turun celana dalam wanita cantik tersebut. Shinta sendiri terlihat membantu Om Herman dengan sedikit mengangkat pantatnya dari meja. Setelah berhasil membukanya, Om Herman tersenyum melihat kain mungil di tangannya. Modelnya begitu tipis, berenda dan menerawang. Jelas sekali celana dalam G-string merah muda itu memang dipakai oleh pemiliknya bukan untuk menutupi apapun. Om Herman pun meletakkan kain mungil itu di atas kursi.
G-string? .
Yeah…! He he he .
Kalo begitu kamu musti sering-sering ngangkang di depan Om he he he .
Lo ini kan udah ngangkang? .
Oh iya he he he .
Shinta memasukkan tangan kanannya ke dalam rok dan mulai mengelus-ngelus permukaan memeknya memang yang sudah basah. Ayo dong buruan di cium… .
Laki-laki paruh baya itu kemudian berjongkok di depan meja dan melepaskan kedua sepatu high heels yang dipakai Shinta. Setelah itu ia mulai menciumi jari-jari kaki wanita cantik tersebut secara bergantian. Shinta nampak keget ketika ciuman atasannya mulai mendarat di telaOm kakinya. Ciuman Om Herman kemudian mulai merambah naik menuju kedua betis dan terus naik menuju paha sang sekretaris. Permukaan kulit kaki mulus Shinta membawa sensasi tersendiri dalam diri Om Herman ketika menciumnya. Benar-benar putih, bersih, wangi dan indah.
Siap-siap untuk menerima aksi lidahku he he .
Shinta hanya tersenyum mendengar peringatan dari atasannya tersebut. Om Herman kemudian membuka lebar kedua paha sekretarisnya tersebut. Kini terlihatlah dengan jelas sebuah lubang kenikmatan dengan bulu-bulu halus tipis di sekitarnya. Lubang kenikmatan yang selalu mampu membuatnya terbang melayang. Masih begitu sempit dan sekat walaupun Shinta mengakui dengan jujur kepada Om Herman kalau memeknya tersebut sebelumnya udah pernah dipakai oleh beberapa laki-laki selain dirinya. Om Herman sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena dirinya sendiri juga sudah sering tidur dengan beberapa wanita muda lainnya. Justru laki-laki paruh baya itu menyukai gaya permainan Shinta yang memang sudah sangat profesional .

Oooh… om… , Shinta melenguh panjang ketika sang bos mulai menjilati lubang surganya.Kepala Om Herman kini telah hilang di dalam rok Shinta. Wanita cantik itu sendiri kini hanya bisa merasakan lidah atasannya tersebut menari-nari dengan lincah di selangkangannya. Rasa geli dan sekaligus rasa nikmat yang luar biasa seakan-akan menjalar hebat di sekujur tubuh Shinta. Sambil memilin-milin putingnya sendiri Shinta menikmati betul jilatan, sedotan dan kadang tusukan lidah sang bos. Dalam keadaan seperti ini tidak lagi terdapat strata diantara mereka. Om Herman yang dalam kondisi normal adalah atasan Shinta, kini dalam keadaan terbakar nafsu rela merendahkan dirinya dengan berjongkok sambil menjilati selangkangan bawahannya.

Aaahh… oooh… aaahh… , kepala Shinta mendongak menahan rasa nikmat yang menyerang memeknya. Lidah Om Herman yang terus menari-nari dan menusuk-nusuk lubang kenikmatannya benar-benar memberikan sensasi yang luar biasa disekujur tubuh Shinta.
Sruuup… sruuup… .
Sruuup… sruuup… .
Suara decakan terdengar dari dalam rok span Shinta, menandakan daerah selangkangan tersebut sudah mulai basah dan membanjir.
Om Herman mengeluarkan kepalanya dari dalam rok Shinta. Bagaimana? Enak ciuman Om ? He he he .
Enak banget! , Shinta mengangguk dan tersenyum kecil.
Laki-laki itu kemudian kembali memasukkan kepalanya ke dalam rok sang sekretaris. Aroma wangi cairan memek Shinta membuat birahi Om Herman semakin membara. Ia pun semakin Shintar melahap lubang kenikmatan beserta dengan cairan cinta yang membasahinya. Bulu-bulu lembut yang menutupi areal lubang tersebut sama sekali tidak dirasakan mengganggu oleh Om Herman, justru keberadaan bulu-bulu itu menambah sensasi geli di sekitar wajah laki-laki paruh baya tersebut.
Tok… tok… tok…!! , ketika kedua kedua insan terlihat sedang asyik bercengkrama tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu.

CERITA DEWASA – Sedetik setelah terdengar ketukan, Shinta yang sedang mengangkang di atas meja kerjanya segera mendorong kepala Om Herman keluar dari dalam rok span biru tuanya. Begitu kepala itu terlepas dari selangkangannya Shinta langsung meloncat dari posisi duduknya di atas meja. Ia menurunkan roknya yang tadi terangkat dan mencoba merapikannya. Begitu pula dengan bra dan kemeja yang dikenakannya yang masih  terbuka dengan buru-buru berusaha ia rapikan. Satu demi satu kancing kemeja tersebut dikancingkannya kembali dengan cepat. Begitu selesai dengan segera pula ia kembali mengenakan blazer yang tadi tergeletak di atas meja kerjanya.

Om Herman sendiri tak kalah sibuknya dengan sang sekretaris. Dengan cepat ia menyeka mulutnya yang belepotan dengan cairan memek Shinta. Ia lalu merapikan dasi dan kemejanya. Shinta sendiri kini masih terlihat sibuk mengenakan sepatunya. Ketika kedua sepatu berhasil dikenakan kembali, Shinta lalu menyambar beberapa map dan meletakkannya di atas meja. Mereka lalu berpura-pura sedang sibuk memeriksa file-file di dalam map tersebut. Beruntung semuanya bisa dilakukan dengan cepat karena ketukan kedua segera menyusul terdengar beberapa detik kemudian.

Masuk! , Shinta berteriak pelan ketika mereka berdua telah siap berdiri di depan meja kerja.
Namun baru pintu ruangan terbuka sedikit, sekilas Shinta melirik ke arah kursi kerjanya. Disana masih teronggok sebuah celana dalam G-string berwarna merah muda miliknya. Langsung saja Shinta menyambarnya dan memasukkan sepotong celana dalam mini tersebut ke dalam saku blazernya. Om Herman hanya tersenyum melihat hal tersebut yang kemudian disambut senyuman pula oleh Shinta.

Lalu masuklah Ayu, salah satu staf kantor dengan memegang beberapa map. Ia sedikit terkejut ketika melihat Om Herman berada di ruangan Shinta. Ia kemudian sedikit tersenyum dan memberi hormat dengan sedikit mengangguk ke arah Om Herman. Perbuatan Ayu itu kemudian dibalas senyuman juga oleh Om Herman.

Maaf Mbak Shinta saya tidak tahu kalau Mbak Shinta ada tamu .
Nggak apa-apa kok, Om Herman cuma bantu saya mengerjakan beberapa laporan kok , Shinta mencoba menutupi aktifitas yang baru saja mereka berdua lakukan tadi.
Memang ada apa ya Win? .
Ini Mbak tadi Om Tio meminta saya menyampaikan berkas ini ke Mba Shinta, katanya tolong dibuat rangkumannya sebagai bahan presentasi di acara sosialisasi besok pagi .
Oh, gitu ya? Ya udah berkasnya kamu taruh saja dulu disini, bilang ke Om Tio besok pagi rangkumannya akan saya serahkan langsung di ruangannya .
Ayu lalu meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja kerja Shinta, Kalau begitu saya permisi dulu Mbak .
Oh iya Win, kamu nggak back up datanya dalam bentuk softcopy? .
Sudah Mbak, sudah saya taruh juga di dalam map .
Kalau begitu makasi ya… .
Sama-sama Mbak , kemudian Ayu melemparkan senyum ke arah Om Herman. Saya permisi om .
Om Herman hanya mengangguk pelan.
Kemudian Ayu berjalan menuju pintu diikuti oleh Shinta dari belakang. Sejenak mereka berdua terlihat bercakap-cakap sebelum akhirnya Ayukeluar dari ruangan tersebut. Shinta menutup pintu ruangannya dan kemudian menguncinya. Wanita cantik itu cukup bersyukur tadi Ayu sempat mengetuk pintu sebelum masuk. Akibat nafsu yang telah membara membuat dirinya lupa kalau pintu ruangannya belum terkunci. Tentu skandal dirinya dan sang bos bisa saja terkuak apabila tadi Ayu masuk dengan tiba-tiba dan menyaksikan adegan layak sensor yang mereka lakukan tadi. Berlahan Shinta kemudian berjalan mendekati Om Herman yang kini bersandar pada meja kerjanya.

Om , saya dapat tugas nih dari Om Tio, sepertinya yang tadi musti kita tunda dulu… .Shinta tersenyum menggoda sambil memegang dasi yang dikenakan oleh atasannya tersebut. Kemudian dengan berlahan wanita cantik itu membuka simpul dasi Om Herman dan melepaskannya. Dengan cekatan pula Shinta membuka dua kancing kemeja teratas yang dipakai sang bos. Walaupun dari mulutnya keluar kata-kata seolah-olah Shinta ingin menghentikan semua kegilaan mereka tadi, namun gerak tubuhnya justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Melihat senyuman nakal Shinta dan tingkah menggodanya kembali mengundang nafsu birahi Om Herman yang tadi sempat menghilang.

Udah tugasnya nantian saja dibuatnya, nanti Om yang bakal bilang langsung ke Om Tio kalau kamu dapat dispensasi hari ini, jadi tugasnya baru bisa diserahin besok siang, nanggung banget nih lanjutin yang tadi yuk! , Om Herman yang  sudah mulai terbakar birahi langsung membekap tubuh sintal Shinta.
Ih kok galak banget sih Om ? , kembali Shinta melemparkan senyum genitnya.
Iya nih, yang bawah udah nggak tahan sih he he .
Mana? Coba saya cek dulu… .
Wanita cantik itu kemudian merabai selangkangan atasannya tersebut. Jari-jari lentik Shinta meremas-remas selangkangan Om Herman yang memang sudah menggunung.
Gimana? Udah siap tempur kan? .
Nggak kerasa Om , kayaknya musti dibuka dulu nih he he he .
Shinta mencium pipi Om Herman dan kemudian berlahan mengambil posisi berjongkok di depan atasannya tersebut. Pelan-pelan jari-jari Shinta menari-nari membuka sabuk dan resleting celana panjang yang dipakai Om Herman. Kemudian celana kain itu dilorotkan berikut dengan celana dalamnya, sehingga kini dihadapan Shinta terpampang sebuah batang tegang namun terlihat belum berukuran maksimal.
Ah masih belum siap nih Om ! , sambil masih dalam posisi jongkok Shinta melemparkan tatapan nakal ke arah atasannya.
Oh belum ya? .
Shinta kemudian mengerlingkan matanya. Iya Om , kalo segini mana kerasa… .
He he he kalo gitu kamu tau dong musti ngapain? .
Ih Om genit deh! .
Om Herman mengelus-elus kepala Shinta, sementara jari-jari lentik Shinta kini sudah bekerja dengan sempurna mengocok-ngocok batang di hadapannya itu. Tak perlu waktu lama ketika Kontol itu mulai keluar masuk ke dalam mulut si wanita cantik. Dengan telaten Shinta menjilati, mengulum dan mengocok Kontol Om Herman sehingga mengakibatkan Kontol itu semakin menegang dan membesar. Shinta memang memiliki spesialisasi dalam melakukan oral sehingga Om Herman dibuatnya merem-melek keenakan merasakan permainan lidah dan mulutnya. Dengan bergantian Shinta menjilati Kontol Om Herman dan juga buah zakarnya. Kuluman mulutnya juga divariasikan dengan kocokan tangan guna memberi waktu baginya untuk menarik nafas. Wanita cantik itu juga sedikit membasahi batang berurat tersebut dengan ludah guna memudahkannya melakukan kocokan.
Cukup sayang… , Om Herman memegang pundak Shinta dan kemudian membantunya berdiri.
Entah kenapa laki-laki paruh baya itu pun meminta Shintamenghentikan layanan oral-nya. Mungkin Om Herman tidak ingin langsung mencapai puncak permainan tanpa merasakan nikmatnya jepitan memek sang sekretaris. Kemungkinan juga Om Herman cukup menyadari kalau waktu yang mereka miliki kini tidaklah banyak lagi dan tempat yang juga kurang mendukung, sehingga memilih untuk meloncati tahap foreplay dan langsung meloncat ke sesi penetrasi.

Kenapa Om ? Om nggak suka dengan pelayanan saya? .Bukan gitu, tapi sekarang giliran Om yang bikin kamu enak he he he .Shinta yang semula keheranan langsung tersenyum dan mencubit pinggang atasannya tersebut. Rupanya Shinta bisa menangkap maksud atasannya yang ingin segera melakukan penetrasi.Om nakal deh he he he .

Ha ha ha ayo kasi Shinta dong bagian yang enak-enak itu .
Om Herman kemudian berlahan mendorong pelan tubuh Shinta sehingga mentok di ujung meja. Shinta sendiri membuka blazer yang dikenakannya dan melemparnya kembali ke atas kursi. Sementara itu di waktu yang bersamaan Om Herman terlihat mengangkat rok span wanita cantik itu dan mulai merabai bulu-bulu lembut di sekitar wilayah selangkangan tersebut. Mereka kemudian kembali berciuman.
Mau netek lagi? He he , dengan nakal Shinta mempermainkan kancing kemejanya.
Dibuka aja, siapa tau nanti Om haus he he he .
Iah Om ini…! .
Shinta pun menuruti kemauan Om Herman. Ditengah rabaan tangan sang bos diselangkangannya, Shinta dengan berlahan membuka satu per satu kancing kemejanya. Saat kancing terakhir terbuka, tanpa dikomandoi Shinta membuka kaitan bra merah muda berenda yang dipakainya. Walaupun semua pakaian tersebut masih tetap melekat pada tubuhnya, namun sama sekali tidak berguna buat menutupi bagian atas tubuh Shinta. Kedua payudara montok sang sekretaris kini terekspos bebas berikut dengan kedua puting coklat kecilnya.
Mimik cucu dulu ah… .
Aaaoo… geli ah om… .
Shinta bergelinjang ketika puting payudara kanannya amblas ke dalam mulut Om Herman. Payudara kiri pun mendapatkan perlakukan yang sama. Keduanya bergiliran dihisap dan diemut oleh Om Herman. Sedangkan tangan kanan laki-laki paruh baya itu sendiri masih sibuk merabai selangkangan Shinta. Jari-jari tangan Om Herman merasakan permukaan memek Shinta masih cukup lembab dan basah sehingga ia pun tak merasa perlu memberikan rangsangan lagi. Apalagi Shinta sendiri sudah begitu bernafsu, dimana terlihat dari wajahnya yang mulai memerah. Om Herman menghentikan kulumannya di payudara Shinta. Dengan tangan kanan Om Herman kemudian mengarahkan Kontolnya dan mengusap-usap ujungnya dipermukaan memek sang sekretaris.
Om… jangan diusap-usap aja, masukin dong… , Shinta merajuk manja.
He he he udah nggak tahan ya? .
Iya nih… .
Beneran nih nggak tahan? , Om Herman menggoda Shinta.
Shinta yang memang sudah sejak tadi bergairah langsung mengkerutkan keningnya kesal. Aaaa… Om gitu deh, saya ngambek nih… .
Tingkah manja dan genit Shinta kala kesal justru membuat birahi Om Herman semakin meninggi. Iya deh jangan ngambek dong, siap-siap ya… .
Aaakkh…! , Shinta berteriak tertahan ketika akhirnya Kontol Om Herman menghujam deras ke dalam memeknya.
Ooohh… oohh… oohh… , desahan mulai keluar dari mulut Shinta seiring kocokan Kontol atasannya. Om Herman sendiri merasakan jepitan memek sang sekretaris begitu kencang karena sudah hampir seminggu lebih ia tidak menikmatinya. Kocokan Om Herman yang semakin mengencang membuat Shinta menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya yang mulai bergoncang. Kedua tangan Shinta mencengkeram erat ujung meja yang berada di belakangnya.
Suka sayang? .
Su… suka banget, yang ken… kenceng Om ! .
Yang kenceng? .
Iya… kocoknya yang kenceng oooh… .
Menyadari kalau saat ini mereka sedang berada di kantor, Shinta berusaha sekuat tenaga untuk menahan teriakan penuh kenikmatan yang keluar dari mulutnya. Namun rupanya rasa nikmat seakan sudah menyerang hampir sekujur syaraf tubuhnya, sehingga ia tak kuasa untuk bertahan. Akhirnya ia memilih untuk memeluk tubuh Om Herman dan mencium bibirnya guna meredam desahan dan erangan yang hendak keluar dari mulutnya.
Shinta kini kian pasrah menerima lumatan bibir dan juga remasan demi remasan di dadanya. Walaupun kemejanya masih terkancing rapat, namun Shinta bisa merasakan kalau bra yang ada di dalamnya tak lagi terpasang pada posisi yang tepat akibat remasan tangan Om Herman. Ciuman dan lumatan pun tak henti-hentinya menghujani bibir Shinta, begitu pula dengan lehernya. Apalagi disaat yang bersamaan genjotan Kontol laki-laki paruh baya itu terasa semakin kencang menghujam ke dalam memek Shinta. Tak perlu waktu lama untuk membangkitkan kembali gelora gairah yang tadi sempat menghilang diantara keduanya.
Ooh… Shinta memekmu nikmat sekali… .
Muncul sebersit rasa bangga dalam diri Shinta mendengar pujian yang keluar dari mulut sang bos. Paling tidak ia merasakan kalau dirinya jauh lebih cantik dan menarik ketimbang istri Om Herman. Wanita cantik itu tahu benar kalau posisinya di Perusahaan ini sangatlah ditentukan oleh kemampuannya memuaskan sang atasan. Maka dari itu ia selalu berusaha merawat wajah dan tubuhnya, terutama bagian lubang surgawinya agar selalu keset dan wangi. Selain itu ia juga sadar harus selalu memberikan pelayanan spesial agar sang bos tidak berpaling kepada pegawai wanita lain yang mungkin berumur lebih muda dari dirinya.
Kontol Om juga nikmat banget! .
Oya? .
Iya Om , luar biasa, terus kocok om… terus… aaahh… .
Sebagai seorang wanita yang sudah sangat berpengalaman memuaskan berbagai macam tipe laki-laki, Shinta juga tahu benar kalau memuji kemampuan sang laki-laki adalah sebuah kewajiban dalam bercinta. Pujian yang tepat akan meningkatkan ego sang laki-laki dan pujian itu akan membuatnya seolah-olah memiliki kemampuan luar biasa, walaupun kadang kenyataannya tidaklah demikian. Namun khusus untuk Om Herman, Shinta sama sekali tidak perlu harus berpura-pura karena Kontol besar milik laki-laki paruh baya itu memang benar-benar mampu membuatnya melayang. Tak terasa sudah hampir sepuluh menitan Kontol Om Herman mengaduk-ngaduk lubang memek Shinta dalam keadaan berdiri.
Oooh… aaah… , Shinta masih terus berusaha menahan desahannya, ditengah lesakan Kontol Om Herman dalam memeknya. Sementara itu tangan kanan Om Herman nakal meremasi payudara Shinta .
Oooh… aaah… .
Balik dong sayang, pengen masuk dari belakang nih .
Shinta menurut. Setelah Om Herman mencabut Kontolnya, ia langsung membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi nungging. Shinta kembali menggunakan kedua tangannya sebagai penumpu di meja kerjanya. Kemudian wanita cantik itu menoleh ke belakang dan melihat Om Herman sedang menatap nanar ke arah bongkahan pantatnya sambil mengocok-ngocok Kontolnya sendiri. Shinta kemudian mengangkat rok spannya dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya guna menggoda atasannya tersebut. Dengan gaya nakal bak call girl profesional, Shinta menjilati jari-jari tangan kirinya kemudian mengusap-usap permukaan memeknya sendiri. Lalu wanita cantik itu memasukkan dua jarinya ke dalam lubang memeknya dan mulai mengocoknya. Shinta memasang ekspresi wajah horny sambil menggigit bibir bawahnya. Om Herman terlihat tak tahan melihat ekspresi wajah Shinta langsung mendekat sambil mengacungkan Kontolnya yang sudah tegang maksimal
You’re so deam bitchy secretary…! .
Tapi Om suka kan? .
Suka banget… you make me turn on very high… .
Terus nunggu apa lagi Om ? Fuck me… fuck me hard! .
Shinta membuka kedua kakinya semakin lebar seolah-olah ingin mempersilakan Kontol Om Herman untuk memasuki dirinya. Kini sebuah pantat montok dengan memek merah basah terekspos dengan bebas siap merasakan sebuah kenikmatan duniaei. Om Herman terlihat semakin membelalak menyaksikan pemandangan indah di depannya. Walaupun ini bukan pertama kalinya, namun tetap saja setiap kali melihat memek Shinta seakan memberikan sensasi luar biasa dalam otak Om Herman. Sebuah batang tegak keras mencuat diantara selangkangan laki-laki paruh baya itu. Dengan terburu-buru Om Herman langsung melepas sepatunya dan kemudian disusul dengan celana panjang berikut celana dalamnya. Agaknya laki-laki paruh baya itu merasa pakaiannya itu sedikit mengganggu dalam melakukan penetrasi di awal persetubuhan mereka tadi.
Aaaakkh…!!! .
Shinta tidak bisa lagi menahan lenguhan panjang yang keluar dari mulutnya. Ini karena ternyata Om Herman tidak memasukkan Kontolnya ke dalam memeknya namun ke dalam lubang duburnya. Batang besar itu kini mulai menggenjot lubang sempit tersebut. Si pemilik batang pun mulai merem-melek merasakan kenikmatan luar biasa dari jepitan lubang anus sekretarisnya tersebut. Sedangkan Shinta sendiri terlihat meringis menahan sakit karena sejujurnya ia sama sekali tidak siap menerima serangan pada lubang pantatnya. Wanita cantik itu mencengkeram pinggir meja dengan sekuat-kuatnya dan menggigit bibirnya berusaha untuk menahan rasa sakit. Shinta tahu benar kalau ia sama sekali tidak bisa melakukan protes atas perbuatan Om Herman ini. Om Herman adalah atasannya dan tugasnya adalah memuasakan sang atasan, jadi Om Herman berhak memilih lubang manapun yang ia suka untuk dimasuki.
Aaakkh… om… pelan-pelan… sakit… .
Oooh… ooh… .
Aaakkkh… Paaakk… .
Mulut Shinta ternganga lebar ketika Om Herman kian mempercepat genjotan Kontolnya. Lubang anus Shinta yang memang masih kering dan belum terlumasi terasa robek dan melar ketika intensitas batang besar itu kian meninggi menghujam ke dalamnya. Tanpa bisa ia tahan bulir air mata terlihat mengalir dari pinggir mata lentik Shinta.
Oooh… sempit banget pantatmu Shinta! .
Aaakkh… aaakkh…Paakk…!! .
Oooh… .
Sa… sakit om… aaakhh…! .
Ini memang bukanlah anal seks pertama bagi Shinta. Beberapa kali ia sudah pernah melakukannya dengan Om Herman maupun beberapa laki-laki lainnya, namun tanpa persiapan tentunya anal seks sangatlah menyakitkan bagi si pemilik lubang. Penderitaan Shinta barulah usai setelah beberapa menit kemudian Om Herman akhirnya menghentikan genjotannya dan menarik Kontolnya. Rasa perih dari lubang pantat Shinta masih begitu terasa menyiksa, selepas genjotan yang mendera pantatnya tadi. Namun belum juga Shinta dapat menghirup udara dan mengatur nafas, Om Herman kembali menghujamkan Kontolnya. Kali ini Kontol besar itu menghujam deras ke dalam memek sang sekretaris cantik.
Ooooh….!! , kembali Shinta harus melenguh panjang.
Aaah… Shinta… .
Om Herman… ooohh… .
Wanita cantik itu bersyukur dalam hatinya, karena paling tidak kali ini Om Herman memilih lubang memeknya untuk dinikmatinya. Shinta pun kini mulai bisa ikut menikmati persetubuhan tersebut. Bahkan kini ia terlihat ikut menggoyangkan pinggulnya agar lubang kenikmatannya dapat memberikan jepitan maksimal. Rasa sakit yang semula memderanya kini mulai berganti menjadi rasa nikmat yang teramat sangat. Sadar kalau waktu yang mereka miliki kian menipis sebelum waktu makan siang berakhir, Om Herman pun kian mempercepat genjotannya. Laki-laki paruh baya itu berusaha menghujam-hujamkan Kontolnya secepat dan sedalam mungkin. Tubuh Shinta sendiri dibuatnya berguncang-guncang hebat dan membuat wanita cantik itu terus mendesah-desah.
Dikit lagi sayang…! .
I… iya Om , dikit lagi nih, terus… yang dalem… .
Oooh…. oooh…. .
Aaaahh…. sayang memekmu… .
Keduanya mulai merancau tak karuan menandakan kalau mereka telah berada diambang klimaks. Walau keduanya sudah merasa bak melayang ke angkasa, namun keduanya masih tetap berusaha menyadarkan diri mereka kalau saat ini mereka sedang bercinta di ruang publik. Rasa nikmat yang semakin kencang mendera membuat keduanya kian sulit menahan teriakan dan desahan yang terus keluar dari mulut mereka masing-masing. Seandainya mereka ada di tempat yang aman mungkin keduanya akan berteriak sekencang-kencangnya guna menunjukkan betapa hebatnya persetubuhan mereka saat itu.
om… Shinta dapeeet…!! .
Tahan sayang, tahan dikit lagi… .
Aaaakkkh….! , Shinta melenguh hebat. Kepalanya terdongak dengan mata terpejam. Di tengah genjotan Kontol Om Herman yang menggila wanita cantik itu mencapai puncak.
Tak lama setelah itu, Om Herman juga semakin menampakkan ekspresi wajah yang kian memerah. Nampaknya ia juga sudah tidak kuat lagi menahan gejolak rasa yang akan segera menderanya. Laki-laki paruh baya itu akan segera menyusul mencapai puncak permainan.
Sayang… isepin kontol Om ! .

CERITA DEWASA – Om Herman mencabut Kontolnya. Shinta nampaknya tak sempat menikmati sensasi klimaks yang baru saja melandanya. Dengan sigap wanita cantik itu berjongkok dan memasukkan Kontol Om Herman ke dalam mulutnya. Kontol itu langsung keluar masuk ke dalam mulut Shinta, karena Om Herman ikut mengocok-ngocokkannya dengan kuat. Sesekali Shinta mengocok-ngocok batang tegang itu dengan tangan untuk kemudian mengulumnya kembali. Tak lama Kontol itu pun sudah terasa berkedut-kedut hebat.
Oooh….!!! , kini giliran Om Herman yang melenguh panjang.
Semburan demi semburan sperma langsung menyemprot ke dalam mulut Shinta. Wanita cantik dengan sabar menerima semburan sperma atasannya dan menampungnya di dalam mulutnya. Ketika semburan terakhir keluar, berlahan Kontol Om Herman menyusut dan mengecil di dalam mulut sekretarisnya. Begitu Kontol tersebut tercabut dari dalam mulutnya, Shinta sedikit membuka mulutnya. Mulut wanita cantik itu kini terlihat dipenuhi oleh cairan kental berwarna putih. Dengan cepat Shinta kemudian menelan cairan tersebut sampai habis.
Sini Om saya bersihkan .
Setelah cairan sperma Om Herman habis tertelan, Shinta mengambil Kontol atasannya tersebut dan kembali mengulum dan menjilatinya. Dengan telaten Shinta menjilati buah zakar Om Herman dan juga batang serta ujung Kontolnya guna membersihkan sisa-sisa sperma yang ada.
Berdiri sayang! .
Om Herman membantu Shinta berdiri. Kemudian laki-laki paruh baya itu memeluk tubuh sekretarisnya tersebut dan mencium bibir mungilnya. Lama sekali mereka berpagutan seolah-olah Om Herman ingin menunjukkan rasa terima kasihnya atas pelayanan sang sekretaris.
Makasi ya sayang… .
Sama-sama om .
Kamu puas hari ini? .
Puas banget! He he .
Kembali mereka saling berpagutan.
Om masih kangen nih, malam ini Om nginep di tempatmu ya? .
Lo istri Om bagaimana? .
Dia ada kunjungan kerja dengan teman-temannya, jadi tidak apa-apa kalau malam ini Om nggak tidur di rumah .
Aduh kayaknya malam ini saya harus lembur nih he he he .
Ha ha ha iya dong! Tapi tenang uang lemburnya ada kok .
Beneran ya? .
Tenang saja… apa sih yang nggak buat sayangku ini .
Hhhmm… gombal! .

Mereka pun tertawa sambil berpelukan mesra. Kemudian Om Herman mengenakan kembali celananya, merapikan kemeja dan memakai dasinya. Setelah selesai merapikan pakaiannya laki-laki itu duduk di sofa sambil mengenakan kembali kaos kaki dan sepatunya. Shinta sendiri mengambil tissue dan melap lubang memek dari sisa-sisa cairan hasil percintaan mereka tadi. 

Setelah itu wanita cantik tersebut merapikan kembali bra, kemeja berikut dengan rok span yang dipakainya. Ia juga mengenakan kembali sepatu high heels-nya. Sekilas Shinta menyempatkan diri untuk sedikit menata kembali rambut panjangnya yang terlihat sedikit kusut dan tak beraturan di depan kaca.

Lo kok celana dalamnya nggak dipake sih? .
Ntar aja Om , mau pipis dulu nih .
Ih ntar ada yang ngintip lo he he .
Kan cuma Om yang tau kalo saya seliweran di kantor nggak pake celana dalam he he .
Oh you’re so nauthy… he he he , Om Herman lalu meremas pantat Shinta. Sang sekretaris hanya berteriak pelan.
Kalau begitu Om balik ke ruangan sekarang .
Iya om… .
Inget lo nanti malem… .

Siap bos! , Shinta mengerlingkan matanya nakal.

Cerita Sex SMA,Cerita Sex Threesome,Kisah Seks,Cerita Mesum,.Cerita Ngentot,Cerita Sedarah,Cerita Bokep,Cerita Panas,Cerita Terbaru,Cerita Hot,Cerita Sexs,Cerita Dewasa,Cerita Tante,Cerita Sedarah,Cerita Sex Selingkuh.

Baca Juga cerita sex lainya di www.cersex.win hot-hot bikin sange

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *